Lingkunganku.com, Magelang – Volume sampah di TPSA Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, mencapai 70 ton per hari dan melonjak hingga lebih dari 100 ton saat Lebaran. Peningkatan ini terjadi akibat tingginya aktivitas masyarakat serta pasokan dari sejumlah depo yang masuk setiap hari, sehingga kapasitas TPSA semakin terbatas.
Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan Sampah DLH Kota Magelang, Widodo, menyatakan bahwa selama fase Lebaran pada 18 hingga 24 Maret 2026, rata-rata volume sampah mencapai 79,64 ton per hari atau meningkat sekitar 13,76 persen dibanding hari normal.
“Puncaknya itu di hari Kamis dan Jumat, di tanggal 19 itu ada 100,39 ton, sedangkan di tanggal 20-nya itu 135,2 ton,” ujarnya.
Peningkatan volume sampah dipicu oleh tingginya aktivitas masyarakat, seperti kegiatan memasak dan penyelenggaraan acara selama Lebaran. Namun, setelah memasuki waktu pasca Lebaran, volume sampah kembali normal di angka 72,19 ton.
“Setelah tanggal 24 Maret sudah mulai normal, sudah di 72,19 ton atau rata-rata sekitar 70 ton-an,” ujar Widodo.
Kasubag Tata Usaha di UPT TPSA Banyuurip, Magelang, Yusuf Fauzan mengatakan bahwa pasokan sampah berasal dari sejumlah depo di Kota Magelang, dengan kontribusi terbesar dari Depo Maluku di kawasan Rindam.
“Yang terbanyak ada dari Depo Maluku, hampir 4 truk sampah per harinya,” ujarnya.
TPSA Banyuurip sendiri telah beroperasi sejak 1995 dan sempat dinyatakan overload sejak 2017. Meski demikian, pihak pengelola terus mengupayakan agar operasional penerimaan sampah tetap berjalan hingga saat ini. Dengan luas lahan sekitar 6,8 hektare, area TPSA diperkirakan akan semakin berkurang karena terdampak proyek pembangunan tol pada 2026.
Dalam pengelolaannya, TPSA Banyuurip saat ini menggunakan metode controlled landfill, yaitu penimbunan sampah menggunakan tanah secara berkala untuk mengurangi bau dan perkembangan lalat. Namun, keterbatasan lahan dan meningkatnya volume sampah membuat penanganan menjadi semakin kompleks.
Untuk mengurangi beban TPSA, Pemerintah Kota Magelang melalui Dinas Lingkungan Hidup menginisiasi program “Mak Clinge” yang bertujuan mendorong kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri. Program ini menekankan pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga, menjadi tiga jenis: organik, anorganik, dan residu. Dengan demikian, hanya sampah residu yang dibuang ke TPSA, sementara sisanya dapat dimanfaatkan kembali.
Yusuf juga menambahkan bahwa dengan adanya program “Mak Clinge” diharapkan dapat membuat volume sampah yang diterima TPSA semakin berkurang setiap harinya.
“Program Mak Clinge diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPSA setiap harinya,” tambahnya.







