Lingkunganku.com, Magelang – Climate change (perubahan iklim) merupakan perubahan pola cuaca dan suhu bumi dalam jangka waktu panjang. Umumnya, hal ini sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia yang meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK), seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi (penggundulan hutan), serta timbunan limbah industri dan rumah tangga yang menghasilkan gas metana, terutama dari limbah organik.
Untuk mengatasi hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berinisiatif untuk meningkatkan ketertiban masyarakat dalam mengendalikan perubahan iklim melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Fokus utama dari program ini adalah adaptasi mitigasi di tingkat RW/dusun/desa untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim melalui aksi lingkungan yang berkelanjutan.
Salah satu Kampung ProKlim yang ada di Magelang adalah Kampung Iklim “Bersemi” yang berlokasi di RW 04 Kampung Jambon Gesikan, Kelurahan Cacaban. Ketua RW 04, Djoko Budi Sulistyo mengatakan bahwa masyarakat RW 04 bersama pengurus telah melakukan mitigasi adaptasi untuk mengatasi perubahan iklim secara ekstrem dan berhasil mengubah wilayahnya menjadi area ramah lingkungan hingga mendapat pengakuan dalam kategori ProKlim Madya pada tahun 2020, ProKlim Utama pada tahun 2022, serta Trophy ProKlim Lestari tahun 2025.
“Kami bergerak dalam ProKlim, jadi masyarakat dan pengurus melakukan mitigasi adaptasi untuk mengatasi perubahan iklim ekstrem, sehingga masyarakat memiliki ketahanan hidup di tengah kondisi tersebut,” ujarnya.
Djoko juga menjelaskan bahwa melalui upaya yang telah dilakukan, masyarakat berhasil mengubah wilayah yang awalnya tampak kumuh menjadi area ramah lingkungan dengan membentuk bank sampah, melakukan kegiatan kampung organik, hingga budidaya maggot.
“Kampung bersemi mulai dibentuk sekitar tahun 2019 mulai dari kegiatan bank sampah, kemudian kampung organik, lalu sampai ternak maggot,” tambahnya.
Edukasi tentang perubahan iklim (climate change) bukan hanya ditujukan dan dilakukan untuk masyarakat dewasa, tetapi penting juga untuk anak-anak mulai sejak dini. Sekretaris RW 04, Titin Surtiningsih menjelaskan bahwa untuk melakukan edukasi tersebut, kampung Iklim Bersemi telah melakukan dengan salah satu cara, yaitu dengan mengajak anak-anak untuk mengumpulkan kemasan plastik makanan yang mereka miliki dan mengumpulkannya dalam satu botol mineral besar (ecobrick).
“Dulu ada program untuk anak-anak, jadi mereka kita bekali dengan botol 1,5 liter, dan mereka isi dengan sisa bungkus jajan mereka. Kalau sudah penuh, nanti bisa dibawa ke bank sampah dan ditukar dengan uang Rp2000,” jelasnya.
Selain pelaksanaan kegiatan internal warga, Kampung Iklim “Bersemi” Jambon Gesikan juga mengembangkan konsep Wisata Edukasi Lingkungan atau Edu ProKlim yang berfokus pada pembelajaran pengelolaan lingkungan sejak dini. Kampung ini menjadi destinasi wisata edukasi lingkungan untuk anak-anak (TK-SMP).
“Biasanya ada rombongan anak-anak TK datang kesini untuk belajar tentang lingkungan, biar gak bosan mereka juga akan diajari cara memanfaatkan sampah seperti botol, untuk dibuat kerajinan,” jelas Titin.

Pengenalan Ecobrick kepada anak-anak SD Negeri Cacaban 1 (24/10/2024). (Instagram @jambon_gesikan_rw_4_bersemi)
Melalui berbagai kegiatan yang dilakukan, anak-anak tidak hanya dikenalkan pada pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga dibiasakan untuk terlibat langsung dalam aksi nyata di kehidupan sehari-hari. Keterlibatan ini perlahan membentuk kebiasaan positif, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, hingga memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.
Dari proses tersebut, tumbuh kesadaran sejak dini bahwa upaya menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab orang dewasa, melainkan peran bersama, termasuk generasi muda. Dengan demikian, edukasi yang diterapkan dapat membentuk karakter anak-anak agar lebih peduli dan siap berkontribusi dalam menghadapi climate change di masa depan.









