Lingkunganku.com, Magelang – Upaya pelestarian lingkungan berbasis masyarakat terus dilakukan di kawasan Borobudur. Pada Senin (6/4/2026), ribuan bibit kopi dibagikan kepada petani sebagai bagian dari program agroforestry yang menggabungkan aspek ekonomi dan konservasi alam
Sebanyak 4.175 bibit kopi jenis robusta dan arabika didistribusikan kepada petani, terutama generasi muda di wilayah perbukitan Menoreh. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat keberlanjutan lingkungan di kawasan tersebut.
Perwakilan Yayasan Move Nusantara, Dewi Madayanti, menjelaskan bahwa bibit yang dibagikan berasal dari kawasan pegunungan seperti Gunung Welirang dan Gunung Semeru. Selain memiliki nilai ekologis, asal bibit tersebut juga mengandung makna simbolis persatuan Nusantara.
“Kami berharap tanah dan bibit dari gunung-gunung ini dapat disatukan di Borobudur sebagai simbol persatuan Nusantara,” ujarnya.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan komunitas lokal, termasuk Agroforestry Kopi Lestari dan Padepokan Diponegaran. Bibit kopi selanjutnya akan ditanam di lahan-lahan yang sebelumnya belum produktif, sehingga mampu mengoptimalkan fungsi lahan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Perwakilan Padepokan Diponegaran, KRT Dipoyudo Raharjo Wibowo, menyebutkan bahwa bantuan bibit ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Bibit ini akan kami bagikan kepada masyarakat agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik. Dari hasil kopi, diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya.
Selain memberikan nilai ekonomi, tanaman kopi dinilai cocok untuk konservasi karena memiliki daya tahan tinggi dan mampu tumbuh dalam jangka panjang tanpa perlu penanaman ulang secara intensif.
Founder Agroforestry Kopi Lestari, Shalahuddin, menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari pengembangan kawasan berbasis agroforestry yang telah dimulai sejak dua tahun terakhir.
“Kami menemukan banyak lahan yang belum produktif, dan kopi menjadi solusi karena memiliki nilai ekonomi yang jelas,” ungkapnya.
Ke depan, kawasan Menoreh hingga lereng Gunung Sumbing ditargetkan menjadi pusat pengembangan kopi terpadu berbasis konservasi. Program ini juga diharapkan mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekitar kawasan strategis nasional Borobudur.
Tak hanya itu, pendampingan kepada petani menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini, agar pengelolaan tanaman kopi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat.







