LingkunganKu.com – Fenomena “Godzilla El Nino” memicu kemarau 2026 datang lebih awal dan meningkatkan risiko kekeringan, gagal panen, serta krisis air di sejumlah wilayah Indonesia. Sementara pada 2027 kekeringan bisa berlangsung lebih lama. BRIN memprediksi musim kemarau akan terjadi pada periode April-Oktober 2026.
“Godzilla El Nino” adalah kondisi cuaca ekstrem ketika suhu laut di Samudra Pasifik meningkat tajam dan angin melemah. Fenomena ini merupakan bagian dari El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan kondisi ini akan semakin parah akibat pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Fenomena ini mengurangi pasokan uap air ke Indonesia sehingga curah hujan menurun dan musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Secara umum, kemarau akan terjadi mulai April-Juni, menguat di Juli, mencapai puncak di Agustus dan dalam beberapa skenario bisa berlanjut hingga Oktober.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko gagal panen, memicu kebakaran hutan dan lahan, serta mengurangi ketersediaan air bersih. Wilayah Jawa dan Nusa Tenggara Timur akan lebih dulu mengalami kekeringan yang berdampak langsung pada sektor pertanian.
Periset pusat riset iklim dan atmosfer BRIN, Prof. Erma Yulihastin mengatakan bahwa pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa.
Selain itu, pemerintah juga perlu memitigasi dampak Karhutala di Kalimantan dan Sumatra.
Beliau juga menyarankan kepada pemerintah untuk menyiapkan strategi menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku serta dampaknya terhadap banjir dan longsor.
Ancaman ini juga sejalan dengan kondisi global. Laporan Prospek Global 2026 dari World Food Program (WFP) mencatat sekitar 318 juta orang di dunia telah menghadapi tingkat kelaparan kritis atau lebih buruk.
Miliaran orang kekurangan vitamin dan mineral meski mereka tetap makan setiap hari. Kondisi ini meningkatkan tubuh, menurunkan daya tahan, dan mengganggu pertumbuhan, terutama pada anak-anak.
Kekurangan gizi juga berdampak luas. Kondisi ini dapat membebani sistem kesehatan, menghambat pertumbuhan ekonomi, dan memperpanjang kemiskinan di berbagai negara.
Para ahli menilai kondisi ini harus diantisipasi sejak sekarang. Petani dapat menyesuaikan pola tanam, menggunakan tanaman yang lebih tahan kekeringan, serta mengelola air secara efisien. Masyarakat juga dapat berperan dengan menghemat air dan menjaga lingkungan.











